Keranjang Belanja Masyarakat Bisa Jadi Cermin Kondisi Ekonomi Indonesia

Author by:

Category

Page

compas.co.id – Jakarta Ketika membahas kondisi ekonomi, banyak orang langsung terpikir tentang inflasi, nilai tukar rupiah, atau pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Namun menurut Fellaxandro Ruby, seorang creativepreneur dan content creator, ada indikator yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, yaitu keranjang belanja.

Dalam video kolaborasinya bersama Compas.co.id, Fellaxandro Ruby mengajak masyarakat melihat kondisi ekonomi Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. Bukan melalui angka makro yang rumit, melainkan melalui perubahan perilaku belanja masyarakat yang terekam dalam data penjualan e-commerce FMCG sepanjang Januari hingga April 2026.

Berdasarkan data Compas.co.id, total transaksi online kategori FMCG selama periode tersebut mencapai Rp59,5 triliun. Di balik angka tersebut, Ruby menemukan pola konsumsi yang menurutnya menggambarkan bagaimana masyarakat mulai beradaptasi terhadap tekanan ekonomi.

“Kamu bisa bohong soal kondisi keuanganmu. Tapi ada satu hal yang nggak bisa bohong: keranjang belanja.”

Menurut Ruby, terdapat empat sinyal utama yang menunjukkan perubahan perilaku konsumen Indonesia.

Ketika Dapur Rumah Mulai Menggantikan Coffee Shop

Sinyal pertama terlihat dari meningkatnya penjualan berbagai kebutuhan pokok yang identik dengan aktivitas memasak dan menyeduh minuman di rumah.

Data Compas.co.id menunjukkan penjualan kopi tumbuh lebih dari 103%, minyak goreng meningkat sekitar 114%, sementara kategori mie instan juga mengalami kenaikan yang signifikan. Selain itu, gula dan beras turut mencatat peningkatan volume penjualan.

Menurut Ruby, fenomena tersebut bukan berarti masyarakat berhenti menikmati kopi atau makanan favorit mereka.

Sebaliknya, masyarakat mulai mengubah cara mereka mengonsumsi.

“Masyarakat bukan berhenti ngopi. Mereka berhenti membeli kopi Rp35 ribu di coffee shop dan mulai menyeduh kopi sendiri di rumah,” jelasnya.

Ruby menyebut perubahan ini sebagai downtrading, yaitu ketika konsumen tetap memenuhi kebutuhan yang sama tetapi dengan alternatif yang lebih ekonomis.

Lipstick Effect Masih Terlihat di Tengah Tekanan Ekonomi

Di sisi lain, Ruby menemukan fenomena yang cukup menarik.

Meski masyarakat cenderung mengurangi pengeluaran besar, kategori parfum dan produk kecantikan justru mengalami pertumbuhan tinggi.

Data Compas.co.id mencatat parfum dan wewangian menjadi kategori dengan pertumbuhan nilai penjualan terbesar, bertambah sekitar Rp857 miliar hingga mencapai nilai transaksi sekitar Rp2,5 triliun. Foundation, lip cream, dan suplemen kecantikan juga mengalami pertumbuhan positif selama periode yang sama.

Menurut Ruby, fenomena tersebut dikenal sebagai Lipstick Effect.

Ketika kondisi ekonomi memburuk, masyarakat biasanya menunda pembelian besar seperti gadget, liburan, atau barang mewah. Namun mereka tetap mengalokasikan sebagian kecil pengeluaran untuk sesuatu yang mampu memberikan rasa bahagia.

“Parfum atau lipstik bukan tanda masyarakat sedang lebih kaya. Justru itu menunjukkan bahwa orang masih ingin punya ‘kemewahan kecil’ yang tetap bisa dijangkau,” ujarnya.

Konsumen Kini Semakin Rasional dalam Berbelanja

Perubahan berikutnya terlihat dari semakin tingginya minat terhadap produk yang menawarkan value for money.

Ruby menyoroti meningkatnya popularitas berbagai produk dengan label refill, value pack, maupun kemasan ekonomis.

Ia juga menyoroti pertumbuhan Glad2Glow sebagai salah satu brand dengan pertumbuhan nilai penjualan terbesar, serta melonjaknya penjualan produk susu tinggi kalori dan protein Cuerpo.

Menurut Ruby, kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kini jauh lebih selektif dalam mengalokasikan pengeluaran.

“Konsumen sekarang benar-benar menghitung. Mereka mencari produk yang memberikan manfaat paling besar untuk setiap rupiah yang dikeluarkan.”

April Menjadi Momentum yang Mengubah Arah Pasar

Ruby juga menyoroti perubahan yang terjadi setelah periode Ramadan.

Jika pada Maret berbagai kategori mengalami pertumbuhan, kondisi tersebut berubah cukup drastis pada April.

Kategori Beauty & Care mengalami penurunan sekitar 12%, sementara kategori Food & Beverage turun sekitar 25%. Di sisi lain, kategori Health dan Mom & Baby justru tetap tumbuh positif karena masih termasuk kebutuhan utama masyarakat.

Menurut Ruby, perubahan tersebut memberikan pelajaran penting mengenai perilaku konsumen saat menghadapi tekanan ekonomi.

“Yang pertama dipotong biasanya adalah pengeluaran yang sifatnya keinginan. Sementara kebutuhan pokok tetap diprioritaskan.”

Membaca Data untuk Mengambil Keputusan yang Lebih Baik

Ruby juga mengingatkan bahwa data yang digunakan dalam pembahasan ini berasal dari transaksi online FMCG, sehingga tidak sepenuhnya merepresentasikan seluruh aktivitas konsumsi masyarakat Indonesia.

Meski demikian, ia menilai data tersebut cukup mampu menggambarkan arah perubahan perilaku konsumen.

Dalam video tersebut, Ruby juga menjelaskan bahwa Compas.co.id merupakan perusahaan riset independen yang mengumpulkan data penjualan dari berbagai marketplace di Indonesia. Menurutnya, data seperti ini dapat membantu masyarakat maupun pelaku bisnis membaca perubahan tren pasar secara lebih objektif.

Adaptif Menjadi Kunci Menghadapi Perubahan

Di akhir pembahasannya, Ruby mengajak masyarakat untuk tidak memandang data ekonomi sebagai sesuatu yang menakutkan.

Menurutnya, data justru dapat menjadi kompas yang membantu seseorang mengambil keputusan finansial dengan lebih bijak.

Ia menilai bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya sedang menunjukkan kemampuan beradaptasi yang tinggi. Ketika kondisi berubah, pola konsumsi pun ikut berubah.

“Ekonomi mungkin berada di luar kendali kita. Tapi keranjang belanja kita, anggaran kita, dan keputusan kecil yang kita ambil setiap hari tetap berada dalam kendali kita.”

Bagi Ruby, memahami perubahan tersebut bukan hanya membantu seseorang bertahan menghadapi tekanan ekonomi, tetapi juga membuka peluang baru. Dengan mengetahui ke mana uang masyarakat berpindah, pelaku usaha maupun individu dapat menemukan kesempatan untuk beradaptasi, bahkan menciptakan sumber penghasilan baru.


logo-compas-putih-kecil-v1-156x40

Compas hadir dari tim yang sama yang mengembangkan Telunjuk.com, sebuah perusahaan teknologi di Jakarta, Indonesia. Compas berfokus pada business intelligence tools, contohnya Market Insight pasar e-commerce, dan memberikan solusi aktif untuk membawa bisnis Anda semakin berkembang dengan strategi bisnis yang tepat.

Compas.co.id

Copyright © 2020 Compas.co.id by Telunjuk.com

Whatsapp Button CTA

Tinggalkan pesan untuk kami

Halo, kami ingin mengenal Anda lebih dalam agar kami bisa memberikan bantuan yang terbaik.