Era Belanja E-commerce Belum Berakhir, CEO Compas.co.id Ungkap Pentingnya Data bagi Seller

Author by:

Category

Page

compas.co.id – Di tengah berbagai tantangan e-commerce berjualan di marketplace, mulai dari biaya platform, persaingan harga, hingga keterbatasan akses terhadap data pelanggan, sebagian seller mulai mempertimbangkan untuk mengalihkan bisnisnya ke website sendiri. Namun, apakah meninggalkan marketplace benar-benar menjadi jawabannya?

Topik tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam podcast bersama Dery sebagai host dan Narendrata, CEO Compas.co.id. Dery membawa keresahan yang banyak dialami seller dan pelaku usaha, sementara Narendrata memberikan perspektif berdasarkan data e-commerce yang dihimpun Compas.co.id. Menurut Narendrata, anggapan bahwa era belanja di e-commerce akan segera berakhir belum tercermin dalam data. Nilai penjualan online kategori FMCG pada 2022 berada di kisaran Rp48 triliun dan meningkat menjadi hampir Rp130 triliun pada 2025. Bahkan, pada semester pertama 2026 nilainya telah mendekati Rp80 triliun. “Kalau kita bilang era belanja di e-commerce berakhir, kayaknya masih jauh. Justru ini masih bertumbuh terus, khususnya di FMCG,” ujar Narendrata.

Marketplace atau Website Sendiri?

Dalam diskusi tersebut, Dery mengangkat dilema seller: tetap berada di marketplace dengan berbagai biaya dan keterbatasan akses customer database, atau membangun website sendiri agar memiliki kontrol lebih besar. Narendrata menilai keduanya tidak harus dipertentangkan. Marketplace masih memiliki traffic besar dan user experience yang telah terbentuk. Seller justru perlu memahami bagaimana memanfaatkan fitur, pricing, promosi, dan strategi yang tersedia secara tepat berdasarkan data.

Website sendiri tetap dapat dikembangkan, terutama ketika brand telah memiliki basis pelanggan yang kuat. Namun, bagi brand baru yang belum memiliki demand dan awareness besar, meninggalkan marketplace terlalu cepat justru berisiko kehilangan akses terhadap traffic yang sudah tersedia.

Data Bukan Sekadar Angka, tetapi Dasar Mengambil Keputusan

Dery kemudian menyoroti kesalahan yang kerap terjadi ketika pengusaha langsung mengeluarkan biaya untuk branding, marketing, hingga ads tanpa terlebih dahulu memahami kondisi pasar. Di sinilah Narendrata menjelaskan peran Compas.co.id. Teknologi Compas.co.id berawal dari sistem crawling yang mengumpulkan informasi yang tersedia di marketplace. Data tersebut kemudian diolah sehingga brand dapat melihat market size, market share, pemain teratas, produk terlaris hingga harga produk dalam suatu kategori.

Compas.co.id tidak berhenti pada penyediaan dashboard. Menurut Narendrata, tim juga dapat menganalisis perkembangan data dan memberikan rekomendasi berdasarkan perubahan performa. Setelah strategi dijalankan, hasilnya kembali dipantau untuk menentukan langkah berikutnya.

Ketika Tambah Budget Ads Bukan Lagi Jawabannya

Salah satu contoh yang dibagikan Narendrata berasal dari klien yang telah memiliki sekitar 70–80% market share. Dalam kondisi tersebut, meningkatkan budget iklan tidak otomatis membuat penjualan bertumbuh dua kali lipat karena ruang pasar yang dapat direbut sudah terbatas.

Tim kemudian melihat peluang lain melalui New Product Development. Dari data kategori lain yang sedang bertumbuh, muncul diskusi mengenai pengembangan produk baru yang menggabungkan tren health dengan beauty. Produk yang kemudian dikembangkan berhasil membuka market baru dan menurut Narendrata menghasilkan sekitar Rp1,5 miliar dalam beberapa bulan. Namun, Narendrata menekankan bahwa data saja tidak cukup. Rekomendasi harus diikuti keberanian dan kecepatan eksekusi. “Percuma juga data itu kalau sudah jadi rekomendasi, kalau tidak dicoba,” ujarnya.

Perilaku Belanja Online Masih Bertumbuh

Data Compas.co.id juga memperlihatkan bahwa Beauty & Care menyumbang Rp67,1 triliun dari hampir Rp130 triliun nilai penjualan FMCG online pada 2025. Kategori F&B, Health, serta Mom & Baby juga menunjukkan pertumbuhan.

Ketika Dery mempertanyakan isu pelemahan daya beli, Narendrata memberikan catatan bahwa data Compas.co.id yang dibahas berfokus pada kanal online dan tidak merepresentasikan keseluruhan konsumsi offline. Namun, dari sisi e-commerce, bukan hanya nilai penjualan yang meningkat. Jumlah brand FMCG online telah mencapai sekitar 38.000 brand, sementara jumlah brand dan seller disebut tumbuh
sekitar 20%.

Dari Marketplace hingga Social Media Listening

Pembahasan juga berkembang pada pentingnya memahami faktor di luar marketplace. Narendrata menceritakan bagaimana tim Compas.co.id menemukan adanya korelasi antara campaign KOL di social media dengan kenaikan performa sebuah brand. Temuan tersebut menjadi salah satu latar belakang pengembangan layanan Social Media Listening, yang digunakan untuk membantu membaca aktivitas dan percakapan di social media serta melihat keterkaitannya dengan performa penjualan e-commerce. Pada akhirnya, baik Dery maupun Narendrata menekankan satu pesan yang sama: keputusan bisnis sebaiknya tidak hanya berangkat dari asumsi.

“Jangan nge-gamble kalau main e-commerce. E-commerce itu sama kayak digital marketing, semua ada datanya. Sayang kalau itu nggak dipakai, takutnya jadi mengambil keputusan yang kurang pas,” ujar Narendrata menutup pembahasan.

Bagi seller dan brand FMCG, tantangannya bukan sekadar memilih antara marketplace atau website sendiri. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah setiap keputusan bisnis yang diambil sudah memiliki dasar data yang cukup kuat?

logo-compas-putih-kecil-v1-156x40

Compas hadir dari tim yang sama yang mengembangkan Telunjuk.com, sebuah perusahaan teknologi di Jakarta, Indonesia. Compas berfokus pada business intelligence tools, contohnya Market Insight pasar e-commerce, dan memberikan solusi aktif untuk membawa bisnis Anda semakin berkembang dengan strategi bisnis yang tepat.

Compas.co.id

Copyright © 2020 Compas.co.id by Telunjuk.com

Whatsapp Button CTA

Tinggalkan pesan untuk kami

Halo, kami ingin mengenal Anda lebih dalam agar kami bisa memberikan bantuan yang terbaik.