strategi penetapan harga

8 Strategi Penetapan Harga untuk Bisnis Online Anda

Author : Hagi Hanif

Dalam menjual produk, setiap bisnis memerlukan strategi yang tepat dalam menentukan harga dari produk dan jasa yang mereka jual.

Harga merupakan salah satu hal yang sensitif bagi beberapa konsumen. Konsumen akan menjadikan harga sebagai acuan untuk membandingkan Anda dengan kompetitor.

Oleh karena itu, penting untuk melakukan riset dan strategi dalam menentukan harga karena harga akan berpengaruh langsung terhadap penjualan. Berikut 8 strategi penetapan harga untuk bisnis anda.

1. Competition-Based Pricing

Strategi penetapan harga ini berfokus pada harga pasar dari produk, namun tidak memperhitungkan biaya produk atau permintaan konsumen.

Sebaliknya, strategi penetapan berbasis persaingan ini menggunakan harga kompetitor sebagai tolak ukur. Strategi ini cocok digunakan untuk bisnis yang berkompetisi pada ruang yang luas karena perbedaan harga yang tipis dapat menjadi faktor penentu bagi pelanggan. 

Dengan penetapan harga berbasis persaingan, Anda dapat memberikan harga produk sedikit lebih rendah dibanding dengan kompetitor, sama dengan kompetitor, maupun lebih tinggi dibanding kompetitor Anda.

Berapapun harga yang dipilih, metode ini merupakan salah satu cara untuk tetap berada di puncak persaingan dan menjaga agar harga Anda tetap dinamis.

Baca juga: Strategi e-Commerce 2021 untuk Kembangkan Bisnis Online Anda

2. Cost-Plus Pricing 

Strategi penetapan harga dalam cost-plus pricing, hanya berfokus pada biaya produksi produk atau layanan yang dimiliki atau sering juga disebut COGS.

Strategi juga dikenal sebagai penetapan harga markup karena bisnis yang menggunakan strategi ini “menandai” produk mereka berdasarkan seberapa besar mereka ingin mendapatkan keuntungan.

Untuk menerapkan metode cost-plus, biaya produksi dapat ditambahkan dengan persentase tetap dalam harga. sebagai contoh misalkan, Anda menjual topi dengan harga Rp20.000, dan Anda ingin mendapat untung Rp20.000 dari setiap penjualan. Anda akan menetapkan harga Rp40.000, yang merupakan markup 100%.

Dalam penerapannya, Penetapan harga cost-plus biasanya digunakan oleh pengecer yang menjual produk fisik dan tidak cocok untuk perusahaan berbasis layanan karena produk yang berbasis layanan yang ada pada umumnya menawarkan nilai yang jauh lebih besar daripada biaya pembuatannya.

3. Dynamic Pricing 

Contoh industri yang menggunakan Dynamic Pricing adalah Hotel, maskapai penerbangan, venue acara, dalam menggunakan metode Dynamic Pricing industri tersebut melakukan penentuan harga dengan menggunakan algoritma dengan mempertimbangkan harga pesaing, permintaan, dan berbagai faktor lainnya. 

Algoritma yang telah dibuat memungkinkan perusahaan untuk mengubah harga agar sesuai dengan waktu dan jumlah yang bersedia dibayar oleh pelanggan pada saat yang tepat ketika mereka siap untuk melakukan pembelian.

4. Freemium Pricing 

Berasal dari kombinasi kata “free” dan “premium”, penetapan harga ini digunakan 

ketika perusahaan menawarkan versi dasar produk mereka dengan harapan bahwa pengguna pada akhirnya akan membayar untuk mengupgrade atau mengakses lebih banyak fitur. 

Berbeda dengan Pricing dengan metode Cost-Plus, freemium adalah strategi penetapan harga yang biasa digunakan oleh perusahaan software.

Mereka memilih strategi ini karena free trials dan limited membership yang menawarkan penggunanya untuk mengintip ke dalam fungsi software dengan lengkap dan juga membangun kepercayaan calon pelanggannya sebelum membeli. 

Dengan freemium, harga perusahaan harus menjadi fungsi dari nilai yang didapatkan dari produk Anda. Misalnya, perusahaan yang menawarkan free trials dari software mereka tidak dapat meminta pengguna untuk membayar Rp100.000 untuk transisi ke versi berbayar.

Harga harus menjadi penghalang rendah untuk masuk dan tumbuh secara bertahap karena pelanggan ditawari lebih banyak fitur dan manfaat.

5. High-Low Pricing 

Strategi penetapan harga High-Low Pricing merupakan strategi penetapan harga dengan menaruh harga tinggi dial tetapi menurunkan harga tersebut ketika produk kehilangan relevansi.

Penetapan harga dengan High-Low Pricing biasanya digunakan oleh perusahaan ritel yang menjual barang musiman atau barang yang berhubungan dengan trend, seperti pakaian, dekorasi, dan furniture. 

dalam penggunaannya, Strategi high-low Pricing digunakan untuk menghasilkan penjualan yang lebih besar menciptakan ketertarikan lebih di kalangan pembeli untuk mengunjungi ke toko mereka, sehingga menstimulasi penjualan produk lainnya, dan menjual barang-barang inventaris yang tidak mungkin laku dengan harga awal yang terlalu tinggi.

6. Hourly Pricing 

Penetapan harga perjam atau yang biasa dikenal dengan penetapan harga berbasis tarif, biasanya digunakan oleh konsultan, kontraktor, freelancers dan individu atau pekerja lain yang menyediakan layanan bisnis ataupun jasa. Harga perjam pada dasarnya adalah memperdagangkan waktu untuk uang. 

Anda dapat memilih untuk menjual produk atau layanan yang dibundel hanya sebagai bagian dari sebuah bundel, atau menjualnya sebagai komponen dalam bundel dan produk tersendiri. 

Metode ini adalah cara yang terbaik untuk menambahkan nilai melalui penawaran kepada pelanggan Anda yang bersedia membayar harga ekstra di awal untuk mendapatkan lebih dari satu produk. Selain itu, metode ini juga dapat berguna untuk membuat pelanggan Anda terpikat pada lebih dari satu produk Anda lebih cepat. 

7. Bundle Pricing 

Strategi penetapan bundle atau harga paket ini dilakukan ketika Anda menawarkan atau menggabungkan dua atau lebih produk maupun layanan lalu menjualnya dengan harga tunggal. Dengan begitu, dengan melakukan bundling  

Bundling sendiri dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu:

Bundling Alternatif dimana produk yang dijual dengan sebuah alternatif dimana konsumen mendapat pilihan untuk membeli salah satu produk saja atau membeli satu paket produk secara bersamaan.

Seperti contoh pembelian paket bundling notebook dengan modem, dimana konsumen memiliki pilihan untuk membeli notebook saja atau membeli notebook dengan sekaligus modemnya.

Bundling Murni, yakni produk yang dijual dengan dalam satu paket dimana konsumen tak punya pilihan dan harus membeli produk dalam satu paket yang utuh. Contohnya yaitu pembelian rumah beserta dengan interiornya dalam satu paket secara utuh.

8. Premium Pricing 

Jika produsen dan penjual umumnya memasang harga serendah mungkin agar produknya laris, hal ini berbanding terbalik dalam premium pricing. Dalam metode ini, sebuah produk dijual dengan harga di atas harga umum pasar untuk menciptakan nilai produk yang lebih tinggi di mata konsumen. 

Strategi ini memang dapat menyurutkan minat konsumen untuk membeli produk, namun penganut premium pricing percaya bahwa harga yang lebih mahal akan menciptakan persepsi pasar yang positif hingga akhirnya mendatangkan untuk lebih besar bagi mereka. Strategi ini sangat umum diterapkan di industri fashion.

Setelah menentukan harga, Anda juga harus terus memantau produk apa yang paling laris di pasar, serta brand apa yang mendominasi melalui fitur Top Product & SKU di Compas.co.id. 

pasted image 0

Market Insight Compas.co.id membantu kita dalam menyusun strategi bisnis berdasarkan data dengan mengidentifikasi seberapa kuat posisi kita di marketplace.

Berdasarkan total penjualan produk serta membandingkannya dengan kompetitor dalam kategori yang sama yang merupakan faktor berpengaruhi dalam penjualan di marketplace.

Baca juga:


Mau bisnis Anda mengalahkan kompetitor dan memenangkan pasar dengan bantuan data insight seperti di atas? Yuk hubungi tim Compas

Get Your Market Insight Now

Related Post

2 Comments

Leave a Comment

Want to grow your online business with data-driven insights? Reach us now!

logo-compas-putih-kecil-v1-156x40

Comprehensive price and analytics system

Compas.co.id

Copyright © 2020 Compas.co.id by Telunjuk.com

Need Help? Chat with us